Lelahnya Perjalanan ke Buol

Bagi orang Palu, perjalanan ke Buol barangkali tidaklah jauh karena mereka terbiasa melakukan perjalanan darat panjang nan berliku. Tetapi bagi saya, yang tinggal di Jakarta, itu adalah perjalanan darat yang “lumayan” jauh, sekitar 615 km, terlebih jalannya berliku, naik turun dan rusak-rusak. Tetapi saya harus berangkat ke sana karena kepentingan pekerjaan.

Sebelum berangkat, saya berkomunikasi dengan seorang teman yang tinggal di Palu, Sahran Raden namanya, untuk menanyakan tentang kondisi wilayah Buol. Sang teman, yang juga dosen STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Palu mengabarkan bahwa Buol itu letaknya jauh sekali. Ia merupakan kabupaten paling utara di Sulawesi Tengah, dan berbatasan dengan Propinsi Gorontalo. Kalau naik angkutan umum, agak susah karena tidak setiap saat ada angkutan umum yang siap berangkat, seperti halnya di Jawa. Kalau berangkat pun hanya sampai Toli Toli, untuk ke Buol harus ganti lagi angkutan yang lain.

Alternatif lain menggunakan kapal laut, tetapi jadwalnya tidak setiap hari ada pelayaran. Itu pun singgah di Toli Toli. Sebenarnya ada pesawat jenis cassa (pesawat berpenumpang 10-15 orang) yang melayani penerbangan Palu-Buol, tetapi hanya satu minggu sekali. Atau tetap naik pesawat Palu-Toli Toli, nanti dari Toli Toli ganti angkutan umum. Pikir saya, susah sekali. Padahal acara di sana hanya dua hari. Sang teman akhirnya memberikan solusi alternatif lain: perjalanan darat Palu-Buol dengan menyewa mobil pribadi.

Ini pilihan terbaik”, kata teman. “Dari segi keamanan, Anda akan lebih terjamin meski ongkos yang dikeluarkan menjadi sedikit bertambah”, kata sang teman melalui telepon. Yang sebenarnya membuat lebih nyaman dengan rental mobil pribadi, karena di Buol Anda tidak perlu sibuk mencari sewaan mobil lagi. Apalagi di sana agak susah mencari sewaan mobil. Walhasil saya putuskan untuk rental mobil, saya minta sang teman menemani perjalanan ke Buol karena sendirian di daerah baru juga kurang nyaman, pikir saya.

Saya berangkat dari Jakarta Kamis sore, 8 Maret 2007 pukul 15.30 WIB dengan pesawat Batavia Air. Transit di Bandara Sepinggan Balikpapan dan ganti pesawat Batavia Air yang lain untuk terbang ke Palu. Tiba di Palu pukul 19.30 WITA (18.30 WIB). Saya sudah rencanakan menginap satu malam di Palu dan Jum’at pagi bisa berangkat ke Buol dengan perjalanan darat. Di sini ada kejadian unik sekaligus menjengkelkan saat saya sedang menunggu tas koper di ruang bagasi Bandara Mutiara Palu. Beberapa bagasi milik orang lain sudah didapat tetapi tas koper saya belum muncul juga. Ternyata ada lebih dari 15 orang yang mengalami nasib seperti saya.

Setelah lama ditunggu, ternyata bagasi sudah habis. Kaget bukan kepalang saya dan para penumpang lainnya yang belum mendapatkan bagasinya. Setelah ditelusuri ternyata bagasi saya dan belasan penumpang tadi ketinggalan di Balikpapan. Saya lalu teringat beberapa kasus yang sering muncul di koran mengenai buruknya pelayanan pesawat di Indonesia, dan ternyata saya saat ini menjadi salah satu korbannya.

Di pintu keluar ruang bagasi ternyata sudah ada kerumunan sebagian penumpang yang mengalami nasib seperti saya. Mereka protes keras terhadap manajemen Batavia Air. Saya pun tidak mau berdiam diri. Saya ajukan beberapa tuntutan bersama para penumpang yang dirugikan, yaitu menyediakan hotel dan konsumsi sampai bagasi ditemukan dalam kondisi baik. Melalui diplomasi yang alot, akhirnya tuntutan saya dan para penumpang dikabulkan. Walhasil perjalanan ke Buol menjadi tertunda setengah hari karena menunggu bagasi dari Balikpapan.

Setelah bagasi saya dapatkan kembali, Jum’at malam pukul 22.00 WITA perjalanan baru dimulai menuju Buol. Saya ditemani oleh dua orang: Sahran dan Ibrahim (keduanya memiliki kaitan dengan pekerjaan saya) serta seorang sopir, Yusran namanya. Ada dua pilihan jalan menuju Buol, melalui jalur pantai barat atau pantai timur. Melalui pantai barat akan memakan waktu 4 jam lebih lama karena jalannya melingkar, tetapi jalannya lebih halus. Masalah lain mungkin segi keamanan, karena menurut cerita pantai barat banyak terjadi kasus perampokan di jalan, terutama malam hari. Akhirnya dipilih jalur pantai timur. Meski kondisi jalannya lebih rusak tetapi menurut sang teman lebih aman. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 14 jam tiba di Buol.

Keluar dari Palu langsung ketemu hutan kopi di Kecamatan Toboli wilayah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Hampir dua jam baru ketemu perdesaan di wilayah kecamatan Ampibabo, lalu masuk hutan jati di wilayah Kecamatan Kasimbar, Kecamatan Tinombo dan Tomini. Sepanjang jalan dari Palu sangat sepi tetapi kondisi jalannya bagus. Hampir setiap setengah jam baru ketemu mobil lain yang bersimpangan, tidak seperti jalur pantura Jakarta-Semarang-Surabaya atau jalur selatan Jakarta-Bandung-Purwokerto-Jogakarta-Solo-Surabaya yang sangat ramai walau tengah malam.

Sabtu, sekitar jam 3 dini hari WITA, kami singgah sebentar untuk minum kopi di wilayah Kecamatan Tomini. Kebetulan ada satu-satunya warung di tengah hutan, yang biasa digunakan istirahat bagi para pejalan jauh. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki pegunungan Tinombala untuk menuju pantai Barat. Pegunungan ini terkenal keangkerannya, mulai dari perampokan hingga seringnya terjadi kecelakaan. Sangat wajar karena pegunungan ini sangat sepi dan hutannya sangat lebat. Untuk melewati pegunungan ini hingga bertemu perdesaan lagi membutuhkan waktu 2 jam dengan jarak lebih kurang 40 km. Jarak 40 km kalau di Jawa barangkali hanya ditempuh selama 30 hingga 40 menit. Di pegunungan ini ditempuh 4 kali lipat lebih lama karena jalannya sangat rusak seperti sungai kering yang banyak batu-batu kecil. Sebagian jalannya juga berdiri di atas tebing terjal yang sangat dalam. Kalau Anda pernah melewati tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), jalur tol Jakarta-Bandung, pasti Anda akan melewati tebing yang sangat dalam.

Anda bayangkan, tebing di pinggir jalanan di pegunungan Tinombala, dalamnya melebihi tebing tol Cipularang. Bedanya, kalau tol Cipularang jalannya sangat luas, halus, lurus dan ada pembatas di pinggir jalan. Tetapi di pegunungan Tinombala, jalannya naik turun, tikungannya tajam, sempit, sangat rusak, tidak ada pembatas di pinggir jalan, padahal tebingnya persis di pinggir jalan. Jika terpeleset sedikit saja, maka mobil Anda akan masuk jurang yang sangat dalam, dan pasti akan sulit untuk diangkat. Jangan dibayangkan, karena driver kami sangat berpengalaman dan mengenal sekali jalanan di wilayah itu, meskipun usianya baru 25 tahun.

Pegunungan Tinombala merupakan perbatasan Kabupaten Parimo dengan Kabupaten Toli Toli. Dua jam setelah melewati pegunungan, baru kemudian kami bertemu perdesaan di wilayah Kecamatan Basidondo Kabupaten Toli Toli. Di sini kondisi jalannya berbeda jauh dengan pegunungan Tinombala, sangat halus seperti jalanan di pusat Kota Palu. Agak jauh dari jalan terlihat pantai yang masih terlihat alami sepanjang jalan berliku di Kecamatan Lampasio dan Boalan Kabupaten Toli Toli.

Kira-kira pukul 08.00 WITA kami memasuki Kecamatan Galang, yang merupakan kecamatan kota di Kabupaten Toli Toli. Terasa lapar dan lelah sekali karena semalaman di perjalanan, meskipun kami sudah sediakan roti dan makanan kecil lainnya. Akhirnya kami istirahat dan makan di salah satu warung di Galang.

Usai makan kami melanjutkan perjalanan menuju Buol. Perjalanan masih panjang, sekitar 5 jam lagi. Kami sudah melewati Kota Toli Toli dan masuk Kecamatan Toli Toli Utara. Di Kecamatan inilah saya dikejutkan oleh pemandangan alam yang sangat indah, berupa pantai berbentuk teluk setengah lingkaran yang diapit oleh dua pegunungan, indah sekali. Jalanan yang kami lalui persis di pinggir pantai tersebut. Kami sesekali berhenti untuk mengambil gambar dengan kamera digital. Pikir saya, ini bisa dijadikan wallpaper pada desktop komputer saya atau image di web blog.

Rasa lelah mulai terkikis dengan melihat pemandangan alam ini. Kami terus menyusuri jalanan berliku, persis di sisi kiri pantai sepanjang 40an km sedang di sebelah kanan berdiri pegunungan yang tidak kalah indahnya. Terutama di Desa Lau Lalang Toli Toli Utara, kami berhenti sekitar 30 menit untuk mengambil gambar sana sini karena pemandangan alamnya yang menurut saya sulit untuk dibandingkan di wilayah Jawa.

Setelah merasa cukup puas menikmati pemandangan alam, kami melanjutkan perjalanan menuju Buol. Sekitar pukul 14.30 WITA kami mulai masuk Desa Lakuan Kecamatan Biau Kabupaten Buol, di sini jalannya kembali rusak tidak beda jauh dengan kondisi dasar sungai yang kering. Memasuki Desa Lakea Kecamatan Biau banyak orang menjajakan durian lokal di pinggir jalan. Karena saya suka sekali dengan buah durian, maka kami berhenti untuk membelinya. Sang penjual memilihkan beberapa buah untuk dibuka kepada kami, begitu dicoba rasanya, sangat lezat. Kami berempat makan durian hingga habis 7 buah ukuran sedang. Pikir saya kalau di Jakarta satu buah seperti ini harganya sekitar 20 ribu rupiah untuk durian lokal, sedang untuk durian bangkok, bisa mencapai 70 ribu rupiah. Di sini harganya hanya 5 ribu rupiah dan paling mahal 10 ribu rupiah.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga memasuki Kota Buol. Tiba di Kota Buol sekitar pukul 16 WITA. Tak disangka ternyata perjalanan kami dari Palu memakan waktu 18 jam, empat jam lebih lama dari perkiraan karena banyak berhenti di jalan. Kami langsung mencari hotel dan istirahat hingga pukul 7 malam. Malam itu juga kami membuat appointment dengan beberapa tokoh penting seperti para pimpinan organisasi masyarakat, aktivis LSM, aktivis mahasiswa dan beberapa tokoh masyarakat serta pejabat lokal untuk urusan pekerjaan.

Semua urusan pekerjaan selesai hari Senin dini hari pukul 02.30 WITA. Kami kembali ke hotel untuk istirahat sebentar dan kemas-kemas. Senin pukul 07.00 WITA kami meninggalkan Buol untuk kembali ke Jakarta, tentu harus melewati perjalanan panjang nan berliku melalui hutan di pegunungan Tinombala menuju Palu, saya tidak mau membayangkan. Jalani saja, nanti juga tiba di Palu, pikir saya. Tengah malam pukul 00.00 WITA kami sudah tiba di Palu dan menginap semalam di salah satu hotel. Selasa sore saya baru bisa terbang ke Jakarta dengan pesawat Lion Air, karena tiket yang saya dapatkan hanya penerbangan sore. Begitulah akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Bertemu dengan anak istri, rasa lelah menjadi sirna.[]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: